KAKEKKU, APA KABAR??? AKU RINDUUU....
(07)
Kenapa waktu pulang ke rumah ayahku dulu masih kecil, tak ada suara Kakekku lagi yang menyambutku? Kenapa Kakekku tak lagi yang menjengukku ke rumahku? Lama sekali rasanya aku tak berjumpa Kakekku. Kakakeku yang selalu mencintai dan menyayangi cucu-cucunya terlebih aku. Aku merasakan sekali kalau Kakekku benar-benar mencintai dan menyayangi aku.
Setiap Kakekku menjenguk diriku dan keluarga, pasti Kakekku mengantar dan ikut bersama aku. Saat aku SD, tiap aku berlatih karate, Kakekku selalu menunggu di Dojo. Saat SMP, aku berlatih badminton, Kakekku selalu setia menunggu di GOR. Kemanapun aku pergi, Kakekku selalu menemani dengan wajah gembira dan senang.
Pada saat aku, pulang kampung pun juga begitu. Kakekku selalu menyediakan sesuatu-sesuatu yang diinginkan oleh cucu-cucunya agar senang dan merasa nyaman, kerasan disana (dirumah Kakekku). Maklum, rumah Kakekku jauh dari kota dan pastinya ditengah sawah-sawah. Jadi panasnya minta ampun disana (Madura gitu loh.....). Pasti bawaanya pingin ulang ke rumah saat disana.
Tapi sekarang????? Tak kurasakan lagi rasa itu. Menghilang entah kemana. Kakekku sudah meninggalkan aku (6/6/2005). Tak kudapat lagi rasa-rasa seperti dulu semasa kecil.
Aku sangat sedih sekali karena disaat Kakekku menghembuskan nafas terakhirnya, aku tidak dapat melihat untuk yang terakhir kalinya. 20 hari kemudian, Nenekku Kakekku menyusul Kakekku (26/6/2005). Akhirnya aku bisa melihat Nenekku untuk terakhir kalinya. Nenekku “ditidurkan” disebelah nisan bertuliskan H.Hasbulloh, yang tak lain Kakekku. Aku pun hanya bisa melihat Nisan putih itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, Kakekku sosok yang sederhana dan penuh perjuangan sehingga bisa membesarkan keempat anak-anaknya. Aku tau kalau Kakekku sering menyendiri bersama KEKASIH. Dan tak penah lupa dengan KEKASIH-nya itu. Kini Kakekku bersama KEKASIH. Mungkin Kakekku merasa akan lebih bahagia bersama KEKASIH-nya itu.
Bebarapa tahun lalu, beberapa hari setelah ‘ied, siang-siang aku merebahkan badanku di kasur. Tanpa kusadari air mata ini mengalir dan merubah menjadi tangisan yang sejadi-jadinya. Aku menginagat Kakekku. Sekarang, ketika malam tiba, saat lampu sudah dimatikan untuk tidur dan mata ini tidak bisa dipejamkan, sering mata ini berkaca-kaca. Kaca yang hampir memuntahkan air (air mata Reds). Sering akan menjadi tangisan-tangisan. Tapi aku sekuat tenaga menahannya. Aku tau kalau Kakekku tak ingin melihat aku menderita dan menangis. Tiap malam datang aku takut akan hal itu. Dan sampai saat ini terus berlangsung.
Semasa hidup, Kakekku sering mengatakan “ kalau tiap mau ujian apa aja, telpon Kakek ya!!! Biar aku do’akan dari sini”. Aku tak pernah menghubungi Kakekku pada tiap kali ujian. Ntah lupa atau apa. Aku menyesal, tak pernah menghubungi. KIni aku ingat kata-kata itu. Aku akan menghubungi Kakekku saat aku hendak ujian. Tapi bisakah????
Maafkan aku Kakekku, yang tidak bisa menjadi apa yang kauharapkan disetiap do’a-do’amu. Mungkin do’a-do’a yang telah Kakekku panjatkan pada saat di Rumah Tuhan di tahun yang sama saat aku dilahirkan.
KAKEKKU, APA KABAR??? AKU RINDUUU....
Semoga TUHAN merahmati, Semoga TUHAN menghibur keterasingan, Semoga TUHAN menerima amal, Semoga TUHAN melipatkan-gandakan amal Kakekku dan semua keluargaku yang telah tiada.
Komentar
Posting Komentar